Kamu tau namaku, tapi tidak dengan ceritaku


                "Ndree. . . Apa kamu nanti bisa ikut kerja kelompok ?" Tanya Amel.
                Andre menjawabnya hanya dengan gelengan.Gelengan itu membuat Amel bertanya – tanya akan apa yang dilakukan, Ia sudah mengira Andre menolak. Sudah berkali kali Andre menolak ketika ia diajak kerja kelompok. Sebagian teman kelasnya hampir bisa tau kalau ia diajak kerja kelompok pasti ditolak.

                Andre namanya, ia sekarang bersekolah di SMA 3 KEBARON, sekolah yang terkenal dengan prestasi ekstrakurikuler yang cemerlang. Tak seperti yang orang lain pikirkan, banyak orang yang mengenalnya, bahkan tak jarang yang menyapanya,  tapi nyatanya ia tak kenal banyak orang disekitarnya.

                Banyak orang bilang, jangan nilai buku dari sampulnya. Andre pikir itu memang benar, orang orang telah salah menilai dirinya.


                "Maaf ya mel, jangan marah" tambah Andre setelah melihat ekspresi Amel yang menurutnya terlihat kecewa.

                "Iya ndak papa, aku tau kok kamu sibuk, tapi sekali kali kamu harus ikut kerja kelompok, sisihkan waktumu untuk itu" tampaknya kali ini Amel berusaha untuk menasehati Andre.

                Andre menganggap itu sebuah teguran baginya, entah telah berapa kali ia telah menolak ajakan temannya. Sebenarnya ia juga tak ingin menolaknya, tapi keadaannya memang tak memungkinkannya untuk mengiyakan ajakan itu.

                Lama ia tak menghiraukan Amel, akhirnya ia sadar dari lamunan sesaatnya. Sekali lagi Andre hanya mengangguk. Amel pun pergi meninggalkan Andre sendiri.

                Hari-hari yang ia alami disekolah ini terasa abu-abu. Banyak hal yang ia tampilkan tidak sesuai dengan hatinya. Hati yang dulunya subur dengan titik-titik hitam. Yang dulunya ia tambah terus tiap hari titik hitam tersebut dengan rasa senang, rasa nikmat yang ia rasakan saat titik hitam tersebut mulai memenuhi hatinya. Sudah sejak baligh ia tak mengerjakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Seruan kewajiban hanyalah tinggal seruan, tak terpenuhi.

                Ada satu titik hitam yang Andre rasa sebagai salah satu sebab munculnya titik hitam yang lain, titik hitam yang memang sulit untuk dihilangkan, tapi tak semua orang punya jenis titik hitam ini. Sebuah titik hitam yang jika dimiliki banyak orang akan bisa membuat sebuah negeri bergoncang goncang, akan bisa membuat negeri itu dibalikkan, bagian atas menjadi bawah dan bagian bawah menjadi atas, yang bisa membuat suatu negeri dihujani dengan batu yang panas secara bertubi-tubi, seperti yang dialami negeri yang berada di sekitar laut mati dulu.

                Sebenarnya Andre juga mengetahui tentang titik hitam ini, ia menganggapnya sebagai sebuah penyakit. Dengan berbagai cara ia telah mencoba menetralisir penyakit ini.

                Adzan maghrib sudah berkumandang, seperti biasa Andre bersama teman temannya senang sekali duduk manis sambil berbincang bincang santai. Tidak banyak memang yang berkumpul  biasanya sekitar 6 orang. Diteras masjid sekolah ini, mereka saling bertukar cerita maupun hanya sekedar tanya jawab. Disinilah Andre mendapatkannya, mendapatkan sesuatu yang menenangkan hatinya, sering ia bertanya tentang hal yang tidak dimengertinya, dan alhasil dia mendapatkan jawabannya, beginilah cara Andre menghabiskan sore harinya.

" Aku pulang dulu ya. Assalamu'alaikum. . . ." Sapa Robby ke yang lain.

"Wa'alaikumsalam" jawab kami bersahutan.

                Mereka saling melempar salam, dan pulang ke rumah mereka masing masing. Rumah Andre letaknya lumayan jauh dari sekolahnya, kira kira 18 km dari rumahnya. Motornya melesat dengan cepat melibas terangnya lampu jalan. Sekitar jam 18.30 barulah Andre sampai dirumahnya, tak tau kapan terakhir kali dia pulang ke rumah sebelum jam 5 sore.

                Sampai di rumahnya, setelah mengucapkan salam untuk seluruh isi rumah, ia langsung ke dalam kamarnya, melepas seluruh barang yang ia pakai, hanya tinggal kaos oblong dan celana pendek sampai di bawah lututnya. Dikeluarkannya buku dari dalam tasnya, buku bersampul gambar kesatria berkuda dan disampulnya tertulis "Jalan Cinta Para Pejuang". Andre lebih suka membaca buku berisi motivasi untuk dirinya sendiri. Banyak sekali yang ia dapatkan dari hobi membacanya ini, tapi buku yang ia baca jarang sekali mengenai pelajaran sekolahnya.

                Setelah sholat isya', ia melanjutkan membacanya, tentu saja Smartphone lekat bersamanya. Posisi Andre saat membaca membuatnya pegal, ia istirahat  sebentar membalikkan tubuhnya  sehingga terlentang. Menutup matanya, merasakan betapa pegal tubuhnya, seharian tadi ia mondar mandir menyiapkan kegiatan hari ini, sholat dhuha bersama dihalaman sekolah setiap hari Jumat pada jam 1 pelajaran, ia juga ikut serta kajian ilmu setelah jumatan di teras masjid bersama anggota organisasi yang ia ikuti.

                Ia teringat niat awalnya ikut berbagai kegiatan di sekolah ini. Ya, ia mengikutinya karena ingin menyibukkan dirinya kepada sebuah kegiatan yang baik, menyibukkan dirinya supaya tak ada waktu kosong agar sang Iblis menggoda untuk melakukan kegiatan yang apabila ia lakukan bertambahlah dosanya. Ia pernah membaca sebuah kutipan kata kata dari sahabat Rasulullah Umar Bin Khattab bunyinya "Letih karena kebaikan itu akan hilang tapi pahalanya tetap dan sebaliknya nikmat dalam kemaksiatan akan hilang tapi dosanya tetap". Ini yang membuat ia bertahan sampai saat ini, demi sebuah pahala dan ridho Allah setelah sekian lama ia berkelana dilembah nan nista. Kemudian dia tertidur.

                "Dut..dut..dut..dut..dut" bunyi alarm Smartphone Andre. Jarum jam masih bergelantungan di angka 3 dini hari. Tak lama Andre terbangun dari mimpinya, meraih smartphonennya dan mematikan alarmnya.

                Andre terdiam sejenak dan bepikir, segalanya telah berubah, " aku dulu tak seperti ini, sholat wajib saja tak pernah, apalagi sholat malam". Ia pun mengambil wudhu dan menegakkan sholat malam. Andre berusaha sekhusyuk mungkin dalam kenikmatan yang berbeda ini. Di sholat ini ia memutar kembali otaknya ke belakang, memutar berbagai kenangan hitam yang telah lalu, memang teman temannya disekolah tak tau seperti apa dia dulu, bahkan orang tuanya sendiri tidak tau tentang ini, tentang berbagai penyebab titik hitam di hatinya. Sejujurnya ia malu, malu sekali jika ada seseorang yang tau tentang masa lalunya, mungkin hanya orang orang yang punya keadaan yang sama dengannya yang tau tentang titik hitam ini. Karena titik hitam ini bagaikan pemimpin yang mendorongnya agar mencari pengikut yang sama sehingga ia bisa mendapatkan kenikmatan dengannya.

                Andre membaca surat Al Mulk pada rakaat ke 2 shalat tahajjud, ia suka sekali membaca surat Al Mulk. Ya, ia menghafalnya,30 ayat, surat ke 68, awal juz 29, hampir genap setahun dulu ia berusaha menghafalnya, tak segampang itu. Disaat itulah ia memaksa dirinya untuk berubah, berubah dari lembah nan nista menjadi taman bunga nan mulia. Ia pun menutup sholat malamnya dengan doa. Ia selipkan doa untuk dirinya sendiri.

                Jam menunjukkan pukul 05.45, Andre berangkat ke sekolah setelah berbagai persiapan sebelum ke sekolah ia lakukan. Andre berangkat sendiri menaiki kuda hitamnya dengan secepat kilat. Tak berapa lama ia sampai di sekolah.

                "Assalamualaikum . . ." Salam Andre sambil membuka pintu kelasnya.

                "Waalaikumsalam." Jawab temannya di dalam kelas.

                Andre menuju tempat duduknya tepat samping pintu kelas, ia duduk bersama Robby.

                Robby membuka pembicaraan pagi hari ini. " Apa kamu tau tentang virus ebola yang sedang menyerang di negara Afrika?". Ia tidak pernah terlewat dengan berbagai issue terbaru dibelahan dunia lain.

                "Nggak tau... Apaan itu virus Ebola?" Andre balik bertanya .

                "Itu virus yang baru baru ini menyebar di Afrika, lebih dari 3.000 orang meninggal karenanya, dan kali ini virus ini juga ditemukan menjangkit satu orang di negara Amerika" jelas Robby.

                "Banyak juga korbannya, apa sudah ditemukan penawarannya?" Andre bertanya lagi.

            "Sampai saat ini belum, jadi orang yang terjangkit virus ini, langsung di isolasi " Robby menjawab dengan lancar.

                "Ehm.... Jadi seperti serangan virus HIV dan AIDS ya? Kasihan ya orang terkena itu" Andre bergumam tidak jelas.

                "Kira kira seperti itu" Robby tambah Robby.

                Bel masuk berbunyi. Sekolah mulai sepi karena para siswa menuju ke kelas masing masing.
                Andre sangat sensitif dengan yang namanya penyakit HIV dan AIDS, ia berkemungkinan terjangkit penyakit itu, hal hal yang ia lakukan dulu bisa jadi, ia akan tertular dan terasanya tidak akan dalam jangka dekat. Ia sangat menyesalinya.

Seminggu berlalu. . .

                Satu bulan berlalu. . 

                Setahun kemudian, tak terasa waktu telah lama berjalan, sudah berbagai macam tembok ia tembus, sudah berbagai halangan ia hadapi, memang jalan tak selalu mulus, sering dia kembali ke lembah nan nista lagi, tapi ia bangkit kembali dengan tekad kian matang.

                Pernah suatu ketika, ia kembali lagi ke lembab nan nista itu, ia aktifkan lagi akun Twitter lamanya yang ia gunakan untuk mencari teman, ia cari teman yang mempunyai minat sama dengannya. Berbagai akun yang sesuai ia follow dan berharap bisa bertemu dengan pemilik akun. Ia pernah mem-follow sebuah akun yang ternyata akun tersebut milik seseorang yang  umurnya masih di bawahnya dan sekolahnya tidak jauh dari sekolah Andre. Ia bertukar identitas, mereka kemudian menjalin sebuah hubungan terlarang, tapi dihubungan ini keduanya saling bertukar pendapat dan cerita masing masing, mereka mempunyai masalah yang sama, keduanya mempunyai penyakit yang sulit mereka hilangkan.

                Andre sadar kembali, Sang Pemilik Asmaul Husna mengingatkannya kembali, bahwa perbuatannya adalah perbuatan yang tidak patut untuk diteruskan karena ini bukan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan, ini layaknya memanen titik hitam itu kembali. Ia langsung memutuskan hubungan dengan orang tersebut. Perlu digaris bawahi, Andre memutuskan hubungan dengannya dengan cara yang baik, dan mereka berdua berkomitmen untuk berusaha menghilangkan penyakitnya atau lebih tepatnya merehabilitasi diri mereka sendiri.

                Sang Khaliq berkehendak lain, entah kenapa teman yang pernah dikenalnya dulu lewat akun Twitter masuk ke SMA yang sama dengannya, Andre lupa bahwa temannya itu pernah memberitahukan sebuah keinginannya untuk masuk di SMA itu. Awalnya Andre agak lupa dengannya, ia ingat ketika teman itu mem-follow akun Twitter aslinya, jadi dulu Andre mempunyai 2 akun Twitter, satu untuk kehidupan aslinya, satunya lagi sebagai dunia gelapnya. Setelah melihatnya, Ia ingat sekali wajah itu , wajah dimana dulu ia berharap sekali untuk bertemu, tapi sekarang ia merasa canggung atau lebih tepatnya takut kalau ia bertemu dengannya. Takut jika ia kembali ke yang dulu.
                Ia mulai merasa tak tenang disekolah. Entah kenapa, ia sering sekali bertemu atau sekedar berpapasan dengan dia, hampir tiada hari tanpa berpapasan dengannya. Suasana hatinya juga sering tak menentu. Kadangkala ia ingin sekali bertemu dengannya, walau hanya melihat dari jauh, ada rasa ingin mendekapnya walaupun dari jauh. Tapi dilain sisi, ia tau bahwa sang iblis tengah menggodanya, menggoda dengan kenikmatan semu, ia tau itu, tau sekali hingga ia menutupi rasa ini dengan sesuatu yang dulunya ia tak punya ini, yaitu benteng keimanan.

                Tak hanya itu, ada sesuatu yang mengganjal hatinya, proses peralihan ini menurutnya tidak mudah. Banyak kesempatan ia mencoba memperbaiki dirinya, tapi banyak juga halangan yang menghadangnya. Ia sering merasakan suatu rasa sesak didadanya, awalnya ia tak mengetahui rasa apa itu. Ia mulai mencari terus mencari rasa sesak apa itu.

               Rasa sesak itu menyerang ketika ia sedang mendekatkan diri dengan sang Khaliq.

                11 Maret mungkin ia sudah mencapai batasnya, lengkap sudah semuanya, ia sudah bertemu dengan teman masa lalunya, rasa sesak di dada yang tak diketahui rasa apa itu. Ingin rasanya Andre menyerah, menyerah dari semua ini. Ia rasa perjuangannya untuk berubah tidak ada yang mendukungnya, Sang Penciptapun terus menimpakan untuk dirinya berbagai macam cobaan, sahabatnya pun tak ada yang tahu tentang dirinya. Tinggal dia sendiri, sendiri dalam menghadapi cobaan ini. Ia semakin larut dalam titik jenuh ini. Ingin rasanya ia kembali ke dirinya yang dulu. Kembali ke dalam kenikmatan yang semu, tapi ia menikmatinya.

Dengan berbagai perbuatan nista yang telah ia perbuat, andre tetap mengerjakan sholat lima waktu, meskipun harus diawali dulu dengan mensucikan dirinya. Agaknya dibagian hati Andre masih ada yang belum bertitik hitam, ini yang masih bisa membuat Andre bertahan. Suatu ketika Andre mencoba untuk mencari - cari informasi tentang penyakit yang melandanya, tak sesulit mencari jarum ditumpukan jerami,berbagai informasi yang cocok untuk dirinya telah ia dapat.

Ia sekarang tau, dari berbagai perbuatan yang telah ia lakukan itu, itu adalah pilihannya, Andre memang sudah banyak mengalami perasalahan kehidupan,dan berbagai sikap yang ia lakukan dalam menghadapi badai kehidupan, dan sikap yang ia tunjukkan dalam menghadapi serangan badai kehidupan ini adalah pilihannya juga. Andre mulai mengerti jalannya. Jalan dimana ketika ia memilih jalan tersebut, ia harus menerima konsekuensi atau bertanggung jawab terhadap jalan yang dipiih tersebut.

Pencarian terus Andre lakukan, ia bertanya ke oarng orang yang menurutnya memiliki ketaqwaan yang tinggi, ia membaca buku - buku dan berseluncur di internet dengan harapai ia  mendapatkan informasi mengenai hal yang ia butuhkan. Andre juga semakin menyibukkan dirinya dalam berbagai kegiatan.

Perlahan - lahan, Andre mengetahui rasa sesak  apa yang ia alami sedari dulu. Andre ingin semua kebaikan yang ialakukan dilihat oleh orang banyak serta mendapat pujian, ini yang membuat sesak dadanya. Ia pernah bertanya cara menghilangkan ini. Dan jawaban yang menurut Andre paling tepat adalah berdo’a dan terus melakukan kegiatan tersebut meskipun ada rasa sesak di dada.

Dengan hobbinya membaca, Andre bisa menjawab pertanyaan yang ada dibenaknya. Andre tau titik yang paling hitam didalam hatinya akan sulit hilang, atau mungkin tidak akan hilang, karena Andre tau manusia tidak ada yang luput luput dari dosa. Disaat penyakit itu sembuh atau membaik, Andre tidak berfikiran ia sembuh tapiia berfikiran ia dalam proses rehabilitasi, atau proses dimana Andre menjaga dirinya untuk tidak melakukannya lagi.

Di suatu sore yang tenang Andre, duduk sendiri.

 "Semua sudah berlalu, tidak ada yang bisa merubahnya. Tinggal sekarang bagaimana aku untuk menjalani sisa hidup ini, Allah maha pengampun" pikir Andre dalam hatinya.

                "Yang kurang hanya cara bagaimana aku untuk bertahan dijalan yang benar, sudah tampak jelas mana yang benar dan mana yang salah, ini sebuah pilihan" tambahnya dalam hati, mencoba untuk menenangkan diri sendiri.

                “Aku sudah punya teman - teman yang sangat baik kepada ku. Mereka juga mampu mengingatkan ku saat aku salah dan membantu ku jika aku mendapat masalah. Itulah teman terbaikku. Meski diri ini kadang mengecewakan mereka. Betapa baiknya Engkau Ya Rabb” Bergetar hati Andre saat ia memikirkan betapa banyaknya Rabb-nya telah memberi kenikmatan padanya, ia sering tidak mengerti maksud Rabb-nya memberi suatu masalah.

“Saya meminta kekuatan, dan Allah member saya kesulitan. Saya bertanya tentang kebijaksanaan dan Allah memberikan sebuah masalah untuk diselesaikan. Saya meminta untuk kemakmuran dan Allah memberikan tenaga untuk bekerja.  Saya meminta keberanian dan Allah memberikan saya bahaya untuk diatasi. Saya meminta cinta, dan Allah memberikan orang - orang yang bermasalah untuk diatasi. Saya meminta nikmat dan DIA member saya peluang. Saya tidak meminta apa - apa untuk diri saya, tetapi saya menerima apa - apa yang saya butuhkan. Shalahudin Al Ayyubi” baca andre dari sebuah buku.



Comments

Popular posts from this blog

Perjalanan Snorkeling yang Membuka Mata: Mengungkap Rahasia Tersembunyi Ekosistem Laut