Perjalanan Snorkeling yang Membuka Mata: Mengungkap Rahasia Tersembunyi Ekosistem Laut

Sumber: (McLeod, 2022)

Banyak orang yang suka dengan aktivitas di laut. Tak terkecuali juga snorkling. Sebagai seseorang yang hanya sekali mencoba melakukannya, aktivitas tersebut menimbulkan memori baru. Tempat snorkling yang pernah didatangi berada di ujung timur Pulau Jawa dekat Banyuwangi, yaitu Pulau Menjangan. Spot snorkling di Pulau Menjangan ada di beberapa titik dan ditempuh dengan perahu dengan beberapa rombongan lainnya. Sebagai pengalaman pertama, snorkling menjadi kegiatan yang menyenangkan meskipun beberapa kali kerap tertelan air laut yang asin dan membuat dehidrasi.

Untuk orang umum dan sebagian besar rombongan yang ikut melihat terumbu karang (coral reefs) dan ikan yang tampak mengalir kesana kemarin seperti menari ketika menenggelamkan dirinya ke air membuat kebahagiaan tersendiri. Namun sebagai yang mempunyai perhatian dan ketertarikan terhadap keadaan laut, melebihi sifat senang melihat laut dan kehidupan yang ada ternyata keadaan yang dilihat tidak menunjukkan keadaan ekosistem yang terlihat tidak baik-baik saja. Terkhusus di tempat snorkling dilakukan. Yang terlihat pada terumbu karang seperti Gambar di bawah ini.

 Sumber: (Mikeveitch, 2013)

Sebenarnya, tetap merasa senang dan bahagia dalam melakukan aktivitas tersebut dengan melihat berbagai terumbu karang dan ikan-ikan di permukaan laut dangkal. Namun yang perlu dipikirkan lebih dalam adalah apakah kenampakan ekosistem di permukaan laut dangkal atau ‘ekosistem terumbu karang’ tersebut benar-benar seperti yang seharusnya kita dapatkan saat sedang melakukan snorkling?

Jawabannya adalah tidak. Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah memang seharusnya pemandangan bawah laut seperti apa yang teman-teman dapatkan serta kenapa pemandangan tersebut tidak dialami oleh teman-teman?

Jadi mari kita cari tahu satu persatu.

Pemandangan dasar laut dangkal apa yang seharusnya dilihat ketika snorkling.

Berbeda dengan gambar sebelumnya, pemandangan dasar laut dangkal sehat seharusnya dilihat adalah seperti gambar di bawah ini.

Sumber: (Felly, 2023)

Dari gambar di atas dapat dilihat indikator sederhana kalau ekosistem terumbu karang yang sehat, yaitu dari nampak dari warna dan keadaan terumbu karang itu sendiri serta dari jenis ikan dan invertebrata (hewan tak bertulang belakang) yang ada.

Semakin berwarna-warni (bukan satu warna putih, kuning, atau ungu) dan luas tutupan terumbu karang di permukaan laut dangkal maka semakin sehat pula keadaanya serta sebaliknya. Selain itu semakin tinggi jenis dan banyak jumlah ikan serta invertebrata yang ditemui semakin sehat pula ekosistem tersebut. Kedua indikator sederhana itu saling mempengaruhi satu sama lain karena terumbu karang merupakan tempat hidup (habitat) bagi berbagai satwa laut.

Apa sebenarnya Terumbu Karang?

Fakta menariknya adalah terumbu karang merupakan hewan bukan tumbuhan serta nama tersebut berasal dari dua istilah berbeda.

1.       Terumbu: batuan sedimen kapur/kalsium yang dihasilkan oleh karang dari karang yang mati

2.       Karang: koral atau sekelompok hewan (polip) yang menghasilkan kapur (terumbu)

Jika digabungkan terumbu karang dapat disebut sebagai kumpulan hewan yang menempel pada terumbu serta dalam hidupnya bersimbiosis saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) dengan organisme mirip tumbuhan (zooxanthella) yang terletak di dalam tubuh karang.

Simbiosis tersebut diwujudkan dengan zooxanthella sebagai tumbuhan berfotosintesis menghasilkan makanan untuk karang/kumpulan polip dan sebaliknya terumbu karang memberikan mineral dan perlindungan ke zooxanthella.

Sumber: (Teague dkk., 2019)

Apa yang terjadi pada Ekosistem Terumbu Karang?

Dari hubungan yang menyebabkan terumbu karang hidup maka terjadi proses saling ketergantungan yang menyebabkan jika salah satu darinya tidak dapat bertahan hidup maka akan berdampak ke lainnya. Salah satu contoh fenomena tersebut seperti yang teman-teman lihat ketika snorkling. Alih-alih melihat terumbu karang berwarna-warni dan ikan yang beraneka ragam yang terlihat justru terumbu karang yang sebagian besar seragam dengan warna putih, ungu, atau kuning. Warna tersebut menandakan terjadinya proses coral bleaching.   

Coral bleaching (Pemutihan terumbu karang) adalah fenomena perubahan warna terumbu karang menjadi berwarna putih dan dapat menuju ke rentannya terumbu karang terhadap penyakit serta kematian. Fenomena tersebut dapat terjadi karena terjadinya perubahan kondisi lingkungan hidupnya yang menyebabkan kondisi terumbu karang mengalami tekanan stress dalam rentang waktu tertentu dan menyebabkan karang mengeluarkan zooxanthella dari dalamnya yang juga sebagai pigmen utama pewarna karang yang menjadikannya berwarna putih atau warna asli dari terumbu karang. Akhir dari terumbu karang yang mengalami bleaching adalah kematiannya serta tertutupinya oleh alga pada permukaan terumbu karang yang sudah mati (Singh, 2022).

Sumber: (Singh, 2022)

Perubahan kondisi laut tersebut dapat terjadi karena suhu air yang terlalu tinggi dan rendah, sedimentasi, kekeruhan (turbiditas) atau radiasi matahari yang tinggi, gangguan mekanik, atau infeksi dari mikroorganisme penyebab penyakit (patogen) tapi umumnya yang terjadi sekarang adalah diakibatkan oleh suhu air laut yang meningkat dengan adanya peningkatan suhu pada permukaan bumi (Plass-Johnson dkk., 2015).

Jika coral bleaching terjadi maka ekosistem terumbu karang akan terganggu bahkan rusak yang menyebabkan jenis dan jumlah ikan dan invertebrata menurun karena tidak terdapat tempat berlindung dari predator, hilangnya tempat pemijahan telur, ataupun kematian karena tidak mendapatkan makanan dari ekosistem yang hilang. Bukan hanya itu, rusaknya terumbu karang dapat menyebabkan fungsi ekosistem lainnya seperti untuk menarik turis, jumlah tangkapan ikan oleh nelayan, dan perlindungan garis pantai akan berkurang bahkan hilang (Singh, 2022).

Ikhtisar

Dalam melakukan sebuah aktivitas alam, khususnya di laut, sebagai manusia sebaiknya lebih memahami fenomena yang terjadi apakah apa yang nampak di depan mata sesuai dengan apa yang seharusnya terlihat atau terjadi perbedaan. Menyadari dan mengetahui sebuah fenomena menjadi manusia lebih paham bahwa telah terjadi kerusakan di alam dimana kita hidup. Snorkling yang menjadi aktivitas menyenangkan bagi banyak orang ternyata jika dipahami lebih dalam lagi maka teman-teman dapat menilai keindahan ekosistem dengan lebih depat. Ekosistem terumbu karang yang terlihat saat snorkling yang sebelumnya nampak indah kalau dilihat tanpa ilmu maka dengan tau tentang tanda kesehatan ekosistem tersebut, seperti terjadinya coral bleaching dapat memberikan arti lebih dalam bahwa manusia telah menyebabkan kerusakan di alam yang indah ini. Dulu.

 

Pustaka

Felly, T. J. (2023): Accumulating Plastic Waste in the Ocean Are Killing Coral Reef Ecosystems in Indonesia - Jakarta Daily, , diperoleh 11 Mei 2024, melalui situs internet: https://www.jakartadaily.id/explainers/pr-1626491792/accumulating-plastic-waste-in-the-ocean-are-killing-coral-reef-ecosystems-in-indonesia.

McLeod, L. (2022): Radical Collaboration Can Save Coral Reefs, , diperoleh 11 Mei 2024, melalui situs internet: https://www.nature.org/en-us/what-we-do/our-insights/perspectives/radical-collaboration-coral-reefs/.

Mikeveitch (2013): Menjangan Island, Bali -, , diperoleh 11 Mei 2024, melalui situs internet: http://mikeveitchblog.com/menjangan-island-bali/.

Plass-Johnson, J., Cardini, U., van Hoytema, N., Bayraktarov, E., Burghardt, I., Naumann, M., dan Wild, C. (2015): Coral Bleaching, 117–146 dalam Environmental Indicators. https://doi.org/10.1007/978-94-017-9499-2_9

Singh, S. (2022): Impact of Coral Bleaching on Marine Life, Aqua International, 44–46.

Teague, J., Willans, J., Allen, M. J., Scott, T. B., dan Day, J. C. C. (2019): Applied marine hyperspectral imaging; coral bleaching from a spectral viewpoint, 31(1).

Comments